Sobat, pengalaman bepergian menggunakan pesawat barangkali sudah menjadi hal biasa bagi kebanyakan orang. Namun, bagaimana dengan rekan-rekan tunanetra yang hendak bepergian menggunakan kendaraan udara tersebut? Nah, kali ini saya ingin membagikan salah satu pengalaman terbang saya (tunanetra-red), yang mungkin dapat menjadi pengetahuan menarik bagi siapa saja yang membacanya.
Salah satu pengalaman terbang saya adalah ketika saya hendak menemui rekan chat yang berdomisili di kota Madiun. Jadi, saya naik pesawat jurusan Jakarta-Solo, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Madiun lewat jalur darat. Pada kesempatan itu saya menggunakan jasa penerbangan Lion Air jurusan Jakarta-Solo. Berikut pengalaman saya...
Saya memesan tiket pada 18 Februari 2008. Jadwal penerbangan saya adalah pukul 15:30 WIB. Jadi, menurut informasi yang diberikan pihak Lion Air, saya harus tiba setidaknya dua jam sebelum jadwal keberangkatan (Boarding Pass). Mengingat bandara udara di Jakarta cukup jauh letaknya, saya memutuskan untuk berangkat lebih awal, mengingat saya harus ke Mangga Dua dulu untuk mengambil komputer bicara yang dipesan oleh seorang kenalan baru (tunanetra) di Madiun.
Meskipun sempat terjebak macet, akhirnya saya tiba di terminal 1A pada pukul 14:00 WIB. Untunglah saya tidak terlambat, dan dapat segera check in.
Setibanya di bandara, saya langsung dibantu oleh petugas angkut barang yang segera membawa barang bawaan saya. Namun, tugasnya kali ini merangkap sebagai penuntun saya, mengingat saya memang tak dapat berjalan sendiri. Setelah melewati beberapa pemeriksaan dan proses ferivikasi tiket, saya pun diantar masuk ke ruang tunggu. Di sana saya sempat bercakap-cakap dengan beberapa penumpang lain, khususnya mengenai saya yang mereka anggap cukup "berani" karena datang ke bandara dan naik pesawat sendiri.
Waktu penerbangan pun tiba, dan saya kembali diantar petugas naik ke pesawat. Setibanya di atas pesawat, seorang pramugari segera menuntun saya dan memberitahu secara detail keadaan sekeliling serta hal-hal apa saja yang perlu saya perhatikan. Dari caranya memberi instruksi dan petunjuk, terlihat bahwa awak Lion Air bukan pertama kalinya melayani penumpang seperti saya.
Segalanya berjalan mulus, bahkan hingga saya mendarat di Solo dan melewati proses pengambilan barang...
***
Nah, berdasar pada beberapa pengalaman terbang saya, baik domestik maupun internasional, berikut saya berikan tips terbang bagi rekan-rekan tunanetra. Ini tak hanya berguna bagi tunanetra, tapi juga untuk penumpang berpenglihatan yang mungkin ingin terbang dengan tunanetra, atau punya kenalan tunanetra yang direkomendasikan bepergian dengan pesawat tanpa pendamping.
1. Berdo'a kepada Tuhan. Itu yang utama...!
2. Pastikan Anda menyiapkan barang bawaan dengan baik. Kenali bentuk dan ciri khas dari barang bawaan Anda dengan menyentuhnya, karena hal itu akan sangat membantu ketika petugas bandara hendak menyortir barang Anda. Kalau memungkinkan -- seperti yang saya lakukan -- kemasi barang bawaan dengan pembungkus (kardus atau karton) yang dapat ditulisi, lalu tuliskan nama Anda, beserta kode pesawat dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Ini untuk menghindari kebingungan jika barang yang harus disortir terlalu banyak.
3. Jangan lupa atau malu membawa tongkat tunannetra! Selain berfungsi sebagai alat bantu bermobilitas, tongkat juga dapat membantu orang lain mengidentifikasi Anda sebagai tunanetra. Hal ini sangat berguna, apalagi ketika Anda harus berurusan dengan petugas bandara atau awak pesawat...percayalah!
4. Perhatikan baik-baik jadwal penerbangan yang tertera di tiket. Usahakan untuk berangkat 2 jam lebih awal dari instruksi check in. Misalnya jam penerbangan Anda 15:30 WIB, maka Anda sebaiknya berangkat jam 11:30 WIB (check in 13:30 WIB). Hal ini untuk mengantisipasi keterlambatan mengingat mobilitas tunanetra lebih lambat dibanding orang berpenglihatan.
5. Jangan malu bertanya! Pastikan Anda memperoleh informasi sedetail-detailnya mengenai apapun yang berhubungan dengan penerbangan Anda. Jangan terlalu percaya diri mondar-mandir di bandara sendirian, karena area bandara cukup luas dan tak dapat ditelusuri.
6. Patuhi peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan untuk penumpang, misalnya soal regulasi terbang dan obat-obatan yang sebaiknya disiapkan sendiri. Jadi, seumpama Anda mabuk, Anda tak akan merepotkan orang lain...setidaknya!
7. Ketika berada di pesawat, pastikan Anda mengenal dengan baik pramugari yang bertugas melayani penumpang. Minta dia menunjukkan tempat-tempat penting seperti toilet dan pintu keluar, atau minta tombol akses khusus yang bila ditekan akan langsung menghubungi pramugari tersebut.
8. Jangan panik! Saat mulai terbang, mengudara dan hendak mendarat, kemungkinan gerak pesawat akan naik turun atau maju mundur. Kencangkan sabuk pengaman dan jangan takut!
9. Ketika hendak turun, pastikan Anda turun bersama penumpang yang Anda kenal atau awak pesawat. Segera minta petugas mengantar Anda ke ruang sortir barang untuk mendapatkan barang bawaan Anda. Sebaiknya Anda menyebutkan secara spesifik ciri-ciri barang bawaan Anda (penulisan identitas sangat berguna disini, bukan?).
(((Untuk kisah perjalanan dan petualangan saya di kota Madiun, silahkan menantikan catatannya di www.ramaditya.com/main.htm pada update Februari 2008, kemungkinan akan naik pada 22 Februari 2008)))
18022008430.jpg 1 Comment
|