*Photos=8 Audio=2 Videos=2*
Bagi Anda pemirsa setia Mamamia (Indosiar) pasti sudah tak asing lagi dengan nama Fiersha Hanifah. Vokalis tunanetra (14) yang berhasil menjadi salah satu dari tiga besar dalam kompetisi musik bergengsi itu tak hanya handal dalam urusan tarik suara, tapi juga terkenal dengan acting di sinetron perdananya, Aku Terlahir 500 Gram dan Buta (TPI). Oleh karena itu, rasanya tak perlu bagi saya (penulis-red) untuk mengenalkan pembaca pada sosok mungil ini. Yang perlu adalah membawa pembaca ikut dalam petualangan saya, sebuah catatan pasca Mamamia yang mungkin tak termuat oleh media cetak/online lain. Inilah, "Sehari bersama Fiersha...!"
-Awal Pertemuan-
Kami bertemu untuk pertama kalinya di acara KICKANDY (Metro TV, 30 Januari 2008). Dalam pra-tayang tersebut (kami hanya melakukan rekaman untuk ditayangkan pada 14 Februari 2008), saya mendapat kesempatan berkenalan dan bincang-bincang lebih jauh dengan puteri Mama Ace Amalia ini. Bukan itu saja, saya pun berkesempatan secara langsung -- untuk pertama kalinya -- mencicipi legitnya suara Fiersha yang malam itu mendendangkan salah satu lagu favorit saya, The Greatest Love of All (Whitney Houston).
Singkatnya, kami pun akrab, dan Fiersha bermurah hati mengundang saya untuk menyaksikan kompetisinya di acara Stardut VS Mamamia (Indosiar) pada 1 Januari 2008.
Hari yang dinanti pun tiba, dan petualangan pun dimulai...!
Sore itu, Jum'at 1 Februari 2008, saya meninggalkan kantor di mana sebelumnya -- pagi hari -- saya memberi presentasi seputar motivasi diri. Saya berhasil mendapatkan taksi kosong dan langsung saya sewa untuk mengantar saya ke gedung Indosiar yang terletak di bilangan Grogol, Jakarta Barat.
Ternyata, hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak kemarin hari membuahkan sebuah petualangan luar biasa untuk saya, pasalnya kejadian itu membuat jalan-jalan tergenang banjir dan kendaraan bermotor berhenti total. Akibatnya, saya harus berjalan lebih dari 10 kilometer menembus kerumunan orang dan kendaraan yang terhenti, tak dapat bergerak ke mana pun! Banjir itu pulalah yang mengharuskan saya melepas sepatu, kaus kaki, dan celana saya, karena air merendam jalan yang harus saya lalui, yang kettinggiannya sudah sepinggang orang dewasa (baca: saya menenteng sepatu sambil menggendong tas ransel yang berisi macam-macam barang elektronik, sementara tangan kiri yang masih bebas menggenggam tongkat untuk berjalan).
Setelah berjuang keras di jalanan selama lebih kurang 4 jam, akhirnya saya tiba di Studio 1 Indosiar sekitar pukul 20:30 WIB. Sesampainya disana, setelah mengeringkan dan merapikan pakaian yang basah dan berantakan, saya pun masuk ke arena kompetisi. Begitu masuk, kebetulan Mama Ace lewat dan langsung menyambut saya, meminta saya untuk duduk di bangku penonton dan menyemangati Fiersha yang beberapa detik lagi akan naik panggung. Sungguh sebuah keajaiban bisa datang tepat waktu dan menyaksikan Fiersha beraksi...!
Di saat itulah saya berkesempatan menikmati "gaya lain" dari teknik bernyanyi Fiersha, pasalnya ia diharuskan menyanyikan sebuah lagu dangdut, bukan pop yang menjadi keahliannya. Sambil merekam aksi Fiersha via ponsel, saya tak henti-hentinya berdecak kagum menikmati naik turunnya suara merdu Fiersha yang menari-nari di telinga saya.
Usai kompetisi, saya pun menemui Fiersha. Sambil menyelamatinya, saya dan beberapa peserta kompetisi menikmati hidangan yang sungguh menghangatkan suasana malam itu. Disinilah untuk pertama kalinya saya mendapat kesempatan "bicara bebas" dengan Fiersha, dan mulai mengenal pribadi artis yang aksinya bahkan sudah mejeng di situs video YOUTUBE, sebuah laman penyedia berbagai video, yang tentunya sudah sangat akrab dengan mereka yang gemar berselancar di internet.
-Ke Bandung-
Karena hari sudah terlalu malam, dan Fiersha yang harus menghadiri sebuah acara esok harinya, maka Mama Ace mengajak saya untuk ikut ke rumah mereka di Bandung. Kaget dan senang, itulah yang saya rasakan, pasalnya saya tak sedikit pun berangan-angan bisa ikut bersama seorang artis sepopuler Fiersha. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung mengiyakan tanda setuju.
Di perjalanan, barulah ketahuan kalau ternyata saya dan Fiersha sama-sama doyan ngobrol. "Kalau ketemu temannya yang cocok, Fiersha bisa tahan begadang sampai pagi," tutur Mama Ace. Benar saja. Fiersha bertahan ngobrol dengan saya hingga pukul 03:00 WIB, dan ia baru tidur ketika mobil meninggalkan TOL Cikampek.
Saat Fiersha tidur pulas, Mama Ace bercerita bahwa sebenarnya Fiersha merasa kesepian. Bukan kesepian dalam hal negatif, tapi kesepian karena di lingkungannya, Fiersha tidak punya teman yang setingkat dengannya. Maksudnya, orang yang dapat berbincang-bincang, memberikan pengarahan, atau sharing seputar karir dan pendidikannya. Menurut Mama Ace, biasanya Fiersha cuma ditemani adik perempuan satu-satunya, dan anak-anak yang biasa bermain di sekeliling rumahnya. Tak heran kalau gaya bicara Fiersha terkesan polos dan sangat terbuka.
Lebih lanjut Mama Ace menuturkan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan Fiersha yang sempat terhenti karena karirnya di bidang musik dan sinetron. "Mama mau Fiersha juga maju dalam hal pendidikan," tegasnya. Untuk itu, Mama Ace berencana memindahkan Fiersha ke Jakarta segera setelah Fiersha lulus SMP inklusif yang dijalaninya di Bandung.
Setelah berada di Bandung, saya pun berkesempatan melihat sendiri keseharian Fiersha, baik di rumahnya yang ternyata sangat sederhana, atau di lokasi tempat dia biasa manggung. Di manapun Fiersha berada, si mungil yang dapat julukan "little angel" dari pemirsa YOUTUBE itu selalu disambut para penggemarnya. Begitu berpapasan dengan Fiersha, dari mulai ibu-ibu, tukang roti, penjaga toko, hingga wartawan pun tak ingin melewatkan waktu untuk menyapa atau berfoto dengan Fiersha. Ada yang mengucapkan selamat, ada pula yang mengomentari acting Fiersha di sinetron, bahkan beberapa di antara mereka meminta Fiersha menyanyikan ulang lagu yang didendangkannya di Indosiar!
Secara pribadi Fiersha mengaku sangat senang dan menikmati suasana itu, sebuah suasana yang dulu -- sebelum ikut Mamamia -- tak pernah dirasakannya. "Dulu mana ada yang mau minta tanda tangan sama Fiersha? Malahan Fiersha pernah dipanggil Si Buta Dari Gua Hantu! Ya tapi sudah lewat sih, dan sekarang semuanya sudah berubah," kenang Fiersha sambil berkelakar.
Berkaca pada pengalaman Fiersha itu, hati kecil saya pun mengiyakan. Memang benar bahwa kesadaran sosial masyarakat Indonesia -- dan dunia pada umumnya -- masih perlu ditingkatkan. Kesadaran sosial yang saya maksud adalah tentang bagaimana sebuah kehidupan dapat terjalin dengan baik, tidak hanya sesama manusia yang diberi kesempurnaan secara fisik, tapi juga sesama manusia yang diberi kelebihan lain dengan konsekwensi fisik yang tidak sempurna. Saya berharap nantinya masyarakat akan memiliki pemahaman bahwa siapapun manusia yang dihadapinya adalah normal, tak ada pengecualian atau diskriminasi. Dalam kasus Fiersha contohnya, saya berharap orang-orang tak memuja Fiersha lantaran ia sudah terkenal dan menjadi artis, tapi karena Fiersha sebagai manusia seutuhnya.
-Jadi Manajer Fiersha-
Kami pun semakin akrab, dan saya mendapat anugerah yang sangat besar, karena Mama Ace secara pribadi menunjuk saya sebagai asisten manajer Fiersha. Mama Ace sendiri bertindak sebagai manajer utama yang akan tetap mendampingi kemanapun Fiersha pergi, sementara saya bersama Mas Anggi (Driver Fiersha) akan mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan karir dan pendidikan Fiersha secara langsung.
Menurut Mama Ace, ia ingin Fiersha mendapat pengarahan dan bimbingan yang tingkatannya sama dengan karirnya saat ini, dan beliau merasa saya dapat menjalankan tugas itu. Secara pribadi, saya pun melihat potensi yang besar dalam diri Fiersha, dan saya ingin mentransfer segala pengetahuan -- khususnya di bidang komputer dan musik -- yang nantinya akan menjadikan Fiersha lebih luar biasa lagi. Jadi, nantinya Fiersha tak hanya pandai ber-acting dan hebat dalam urusan olah vokal, tapi ia juga jago meng-edit hasil karyanya dengan komputer, dan tentu saja bisa menyelesaikan pendidikannya dengan gemilang.
Sebagai tugas awal seorang asisten manajer (baca: saya menuliskan ini sambil tersenyum), saya membawa Fiersha berkunjung ke Yayasan Mitra Netra (Jakarta) dan mengenalkannya pada berbagai fasilitas yang dapat dinikmatinya, mulai dari perpustakaan Braille dan buku bicara, berbagai macam kursus, dan komplitnya panganan di koperasi yayasan. Saya pun sempat jalan-jalan keliling kota dan mengajari Fiersha berenang! Meskipun hampir tenggelam, si cerewet (kata mamanya) ini mengaku tidak takut dan ingin belajar renang lagi suatu hari nanti.
Selain itu, saya juga tengah menyiapkan blog pribadi Fiersha, kemungkinan menggunakan Multiply. Silahkan apabila ada yang ingin bergabung menggarap blog Fiersha!
-Peri Kecil Di Istanaku-
Nah, inilah yang paling membanggakan, karena si peri kecil (panggilan yang saya berikan untuk Fiersha) berkenan mengunjungi rumah saya!
Sungguh sebuah kebanggaan ketika Fiersha berada di istana kecil yang merangkap jadi studio mini saya. Di kesempatan itu, selain foto-foto, saya juga menunjukkan kepada Fiersha beberapa teknik audio editing dan penggubahan lagu, segala hal yang nantinya juga dapat dikuasai Fiersha. Hasilnya? Kami pun membuat rekaman singkat hasil acting kami berdua...!
-Download-
Silahkan download audio (MP3) dan video (Google Video) yang saya buat bersama Fiersha...!
MP3 - Perpisahan Pangeran dan Peri Kecil
http://www.ramaditya.com/mp3/fiersha01.mp3MP3 - Wawancara Ramaditya - Fiersha Hanifah
http://www.ramaditya.com/mp3/fiersha02.mp3Video - Aksi Fiersha, Stardut VS Mamamia
http://video.google.com/videoplay?docid=-5307294042914019971&hl=enVideo - Close-up Fiersha Menyanyikan Ayat-Ayat Cinta (Rosa)
http://video.google.com/videoplay?docid=2367891991964747138&hl=en