Temans, pernahkah kita punya cita-cita atau ambisi besar dalam hidup, yang membuat kita fokus dan berjuang untuk meraihnya dengan segenap jiwa dan raga? Menjadi pengusaha sukses, pemain bola handal, atau artis beken, barangkali pernah ada dalam daftar impian kita. Nah, bagaimana pendapat Anda jika ada seseorang yang punya cita-cita dan ambisi besar; ingin menjadi juara dunia dan meraih rekor tertinggi dalam video game Donkey Kong? Inilah inti dari film The King of Kong: A Fistful of Quarters, film dokumenter video game pertama di dunia, yang tidak hanya memotivasi saya untuk menjadi lebih baik lagi, tapi juga berhasil membuat saya menitikkan air mata untuk pertama kalinya (saat menonton film)!
PERHATIAN: "Jika Anda tertarik, silahkan terus mengikuti artikel ini. Namun, bila Anda tidak tertarik -- khususnya bagi yang tidak menyukai video game -- silahkan menutup artikel ini."
Dua puluh lima tahun silam, ketika video game menjadi salah satu media hiburan populer di berbagai sarana umum dan taman hiburan, pencapaian nilai tertinggi (high-score) menjadi salah satu elemen penting bagi pemain. Begitu bergengsinya, sampai-sampai pencapaian nilai tertinggi dalam game mampu membuat anak-anak dan orang dewasa -- yang bermain game -- bersedia main berjam-jam, mengorbankan waktu seharian penuh, bahkan rela tidak makan minum demi mempertaruhkan harga diri mereka dengan berusaha meraih skor tertinggi.
Salah satu game yang menjadi pusat taruhan harga diri ini adalah Donkey Kong, game buatan Nintendo (1982) yang menampilkan karakter tukang ledeng Mario untuk pertama kalinya. Dalam game ini, Mario harus menyelamatkan kekasihnya yang disandera seekor King Kong. Berbagai rintangan siap menghalangi Mario, mulai dari tong yang dilemparkan si King Kong, api ajaib yang bisa bergerak sendiri, hingga kayu berjalan yang siap menjebloskan Mario.
Nah, game inilah yang dipilih sutradara Seth Gordon sebagai inti cerita film The King of Kong: A Fistful of Quarters...
Pada tahun 1982, perebutan rekor dunia Donkey Kong begitu populer, hingga banyak pemain yang mengaku-ngaku dirinya mampu meraih skor tertinggi dalam game ini. Salah satunya adalah Billy Mitchell, yang berhasil menjadi pemegang rekor tertinggi dalam Donkey Kong dengan membuktikannya di hadapan masyarakat umum, dan aksinya pun diliput Life Magazine, sebuah majalah hiburan populer Amerika saat itu.
Tak hanya Donkey Kong, Mitchell pun berhasil menggondol predikat "Gamer of the Century" dengan meraih skor tertinggi untuk beberapa game klasik lain, seperti Pac-Man, Galaga, Frogger, dan Centipede.
Hal inilah yang menarik perhatian seorang musisi bernama Walter Day , yang kemudian mendirikan asosiasi pencatat skor game dunia, Twin Galaxies. Organisasi inilah yang kemudian menetapkan peraturan tentang kompetisi game, melakukan pemeriksaan terhadap skor yang dicapai, dan Walter Day sendiri -- hingga saya menulis artikel ini -- bertindak sebagai juri resmi Twin Galaxies bagi siapapun yang ingin memecahkan rekor dalam dunia video game.
Kembali ke Billy Mitchell. Nilai tertingginya dalam Donkey Kong, 874.000, sama sekali tak tergoyahkan, hingga 25 tahun kemudian, seorang gamer bernama Steve Wiebe berhasil meruntuhkan rekor Mitchell.
Adalah Steve Wiebe, seorang bapak yang memiliki dedikasi tinggi terhadap apapun yang diimpikannya. Meski pernah gagal sebagai olahragawan, gagal sebagai musisi terkenal (band gemblengannya tak pernah terkenal meski Steve sendiri jago main drum), dan gagal sebagai ahli mesin pesawat Boeing, guru pengajar Fisika ini punya impian yang unik -- barangkali aneh bagi orang kebanyakan --, yaitu menjadi yang terbaik dalam game Donkey Kong dengan mengalahkan skor yang dicapai Billy Mitchell.
"Saya senang karena Pak Steve berbeda dengan guru Fisika kebanyakan yang kaku dan galak. Dia suka bercanda, menyenangkan dalam memberikan pelajaran, dan unik. Suatu hari ia menunjukkan rekor dunia yang diraihnya, dan ketika saya tahu itu rekor Donkey Kong, saya berpikir, ternyata semua guru Fisika memang aneh." (Murid Steve Wiebe)
The King of Kong: A Fistful of Quarters akan membawa kita mengikuti perjuangan Steve Wiebe meraih impiannya. Kita akan melihat betapa dedikasi yang Steve miliki mampu membuat keluarga dan teman-temannya terpesona dan terharu.
Perjuangan itu dimulai dari garasi rumah Steve di bilangan Redmond, Amerika, berlanjut ke taman hiburan Funspot di kawasan New Hampshire (ketika Steve diminta membuktikan keahliannya di depan masyarakat umum), hingga pertaruhan terakhirnya di Florida untuk menorehkan rekor Donkey Kong-nya di Guinness Book of Record.
"Ayah! Tolong bersihkan pantatku! Jangan main terus!" (anak Steve Wiebe yang menangis keras saat Steve main Donkey Kong dan berada pada skor 600 ribuan)
Tentu saja perjuangan Steve tidak mudah. Saat berlatih di rumah misalnya (konon Steve sampai menghabiskan waktu 55 jam di depan mesin Donkey Kong), ia harus tetap berkonsentrasi meskipun isteri dan anaknya sering mengeluh (setelah mengetahui niatnya, akhirnya isteri Steve malah balik mendukung). Belum lagi aksi sabotase Billy Mitchell, yang menyatakan bahwa skor Donkey Kong Steve Wiebe tidak valid (mesin Donkey Kong Steve sampai dibongkar total), dan meminta Steve main di mesin Donkey Kong lain dan disaksikan orang banyak.
Saat berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu menandingi Billy Mitchell dengan pencapaian skor di atas 900.000 (Funspot), Steve harus kembali menelan kekecewaan karena Mitchell tidak datang dan berduel langsung dengannya di Funspot. Mitchell malah mengirimkan video rekamannya (bermain Donkey Kong di rumah sendiri) yang ternyata mampu menandingi pencapaian Steve (sekitar 1.047.000). Hari yang tadinya menjadi milik Steve seketika runtuh, ketika semua orang kembali mengelu-elukan Billy Mitchell.
"Inikah Billy Mitchell si juara dunia? Suamiku si Donkey Kong Guy punya segudang pekerjaan dan kesibukan, tapi ia tetap hadir di Funspot untuk membuktikan kemampuannya. Namun, kenapa engkau si juara dunia tidak menyempatkan sedikit saja waktumu untuk datang?" (isteri Steve saat menelepon Billy Mitchell)
Namun, hal tersebut tak menggoyahkan fokus Steve Wiebe untuk menjadi yang terbaik di Donkey Kong. Ia terus berlatih, hingga akhirnya berhasil membuktikan -- masuk Guinness Book of Record -- bahwa ialah sang juara yang sesungguhnya. Ia pun mendapat pengakuan dari Walter Day sebagai pemegang 2 rekor Donkey Kong sekaligus. Pertama, pemain Donkey Kong dengan skor tertinggi di hadapan publik. Kedua, pemain Donkey Kong yang skornya berhasil masuk Guinness Book of Record...
"Aku tak pernah melihat betapa suamiku ternyata sangat luar biasa. Meski orang menyepelekan Donkey Kong, tapi dari pencapaian rekor itu aku dapat merasakan betapa suamiku itu sangat berdedikasi dan punya kelebihan yang luar biasa." (ungkapan isteri Steve Wiebe sambil menitikkan air mata)
----------
Yang membuat saya kagum dan terharu adalah kemampuan sang sutradara yang mampu menjadikan film dokumenter ini "enjoyable" bagi semua orang, bahkan untuk Anda yang belum atau tidak memahami video game sekalipun. Lewat film ini, Seth Gordon berhasil meramu unsur-unsur pencapaian motivasi lewat sajian kompetisi yang melibatkan kecemburuan, konsentrasi penuh, determinasi, dan semangat serta keinginan untuk tidak menyerah dan memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita.
Bagi yang ingin menyaksikan film ini, silahkan impor dari retailer di luar negeri, mengingat film ini tidak masuk ke Indonesia. The King of Kong: A Fistful of Quarters berformat DVD Region 1 (Amerika), dengan durasi 90 menit, plus tambahan 55 menit bonus interview (Weibe VS Mitchell, komentar kru film, side-by-side game comparison, dan sketsa pensil Steve Wiebe dalam menyelesaikan Donkey Kong).