Video Youtube: http://youtu.be/e_UCObI9JmU
Mereka adalah mentari, yang memberiku cahaya dan semangat dalam kegelapan. Orangtuaku, sahabatku, dan kekasihku.
Malam itu, di studio Metro TV, aku siap berhadapan dengan diriku. Inilah saatnya aku memilih. Diam di darat, atau terbang mengangkasa.
...dan, mentari itulah yang berikan jawabannya...
Ini adalah tutur mereka, tiga dari ratusan mentari yang menerangi panggung KickAndy malam itu...
Terima kasih kuucapkan pada Allah, orangtua, keluarga, sahabat, teman-teman dari RUMAH PENA, dan tak lupa kekasihku Isye Oktaviana...
----------
Sobat Yang Penuh Semangat Hidup
By Niko To Pia
Kualitas seorang Ramaditya Adikara tidak bisa disepelekan, dia bukan selebriti, bukan artis kondang, tapi dia hanyalah seorang tuna netra yang membagikan semangatnya kepada Dunia. itu buat saya lebih tinggi dari selebritis yang dipuja banyak orang.
Pengalaman saya bertemu beliau sangat sulit, tingkat kesulitannya sudah berlapis-lapis, di mulai dari saya dikenalkan lewat jejaring sosial Facebook, lalu kami hendak berjanji bertemu, hampir 3 kali janjian tapi, Alam Semesta belum merestui. bahkan janjian ke Rumah Pena yang bisa saya tempuh setengah jam pun, tidak bisa saya uber saat Mas Rama ada di sana. beliau hendak pulang karena baru selesai workshop di daerah tangerang. dan saat itu juga hendak hujan. Alam Semesta belum memberikan tiket pertemuan. saya sabar menunggu. itu akan indah pada waktunya.
dan akhirnya Takdir itu tiba, seperti hujan pertama di bulan januari. Mbak Achi-tm mengundang saya untuk ikut off air shoot di Kick Andy, dan karena saya pun bekerja satu ruangan dengan Mas Agung Argopo, sekalian pulang kantor kita ke sana, ujar Mas Agung. tiket emas itu ada ditangan saya.
Perjalanan yang membuat Mas Agung bingung karena saya begitu cerewet mengajaknya lewat jalan pintas tapi malah berputar jauh, hahhahahaha perjalanan yang menyenangkan apalagi makan nasi goreng sosis yang saya gak suka ada daun sesin di nasi goreng saya. tapi perut kenyang dan segera beranjak ke Metro Tv.
Di sana saya memberondongi Mbak Achi banyak sms menanyakan keberadaannya di mana. dan ketemulah saya dengan Jeng Achi, Jeng Farah, Jeng Widuri. di sana kami bercanda sambil ngopi, kopi panas yang nikmat di sore hari. lalu saya berujar pada Mas Agung jangan bilang Mas Rama saya datang, buat kejutan, dan saat Mas Agung berkata pada Mas Rama, saya hanya berjabat tangan dengan diam, Mas Rama bertanya-tanya, dan ini Tanteeee! tertawalah kami, akhirnya saya berhasil menjabat tangan Mas Rama dan memberinya pelukan hangat. akhirnya juga, kami bertemu, nyata. rasanya aneh sekali Hidup ini. saya selalu ditakdirkan bertemu banyak orang-orang hebat, orang-orang menyebalkan dalam Hidup, orang-orang yang menjahati saya, orang-orang galau (i hate this word), tapi pada akhirnya saya menyadari, setiap pertemuan adalah pelajaran.
Dan Mas Rama yang sangat begitu sederhana ketika saya bertanya tentang masalah yang pernah membelitnya, itu pun di jawab dengan cukup membuat saya sedikit sedih. tapi mau bagaimana lagi, ketegaran yang dihadapi beliau begitu besar, saya kalah sebagai lelaki yang memberontaki segala hal, bahkan tuhan. dihadapannya saya hanyalah sekelumit debu di gurun sahara, embun kecil yang nangkring pada urat daun, noktah noda di baju putih yang sedang di cuci memakai pemutih. saya merasa Mas Rama memiliki kualitas yang hanya dia yang punya.
apalagi saya menemukan moment ketika kita hendak kembali masuk ke studio. di sofa saya melihat Mas Rama memegang pedang sinar starwars miliknya sambil berbincang private bersama kekasihnya tercinta, Mbak Isye Oktaviana. sungguh sesuatu yang dulu pernah hadir dalam Hidup saya, hadir kembali. mengingatkan saya pada dua orang pengamen lelaki dan perempuan yang mengamen di bis kota, mereka bernyanyi tentang cinta, tentang kebahagiaan, tentang waktu yang akan mempersatukan mereka. dan kami para penumpang bis hanya bisa merasa, dunia milik mereka berdua, yang lainnya melongo. energi cinta itu begitu besar, dan begitulah yang saya lihat pada Mas Rama dan Mbak Isye.
saya yang pernah mencicipi bahaya, liar dan anggur cinta; itu membuat saya tidak memercayai CINTA sepenuhnya. tapi dihadapan Mas Rama dan Mbak Isye, kepingan percaya sesaat hadir, saya tersentuh, saya terapung, hanya sesaat tapi cukup membuat saya kembali percaya. akan CINTA yang sejati, bukan cinta-cinta murahan yang dijual di pasar dengan bentuk lagu-lagu atau puisi murahan, dan dinikmati para ababil. tapi cinta yang lebih hening, pasrah, cinta yang menyerah pada keagungan, dan kebaikan.
Cinta yang seperti itu yang saya rasakan. jujur saja saya orang paling sinis dengan cinta, pengalaman memiliki banyak cinta dengan berbagai usia yang saya jalani, pada akhirnya CiNTA itu hanya kata, seperti kaca, bola, mata. saya NGGAK PERCAYA CINTA, tapi ada esensi yang tidak bisa saya hapuskan dari muka bumi ini, tidak bisa saya sangkal, bahasa yang tidak akan pernah kita mengerti, bahasa itu yang menguar dari dalam hati Mas Rama dan Mbak Isye. Ketulusan Sejati. seperti Buddha yang berhasil mencapai Nirvana dibawah pohon bodhi, seperti Jesus di atas pancang salib, yang menghembuskan nafas terakhir, nafas suci, seperti Nabi Muhammad yang melesat terbang dengan Buroq menuju langit ke-tujuh untuk sholat penuh syukur, seperti Khrisna yang meniupkan suling kedamaian untuk menenangkan alam semesta, seperti...seperti.... speechless. *sighs
dan kami pun kembali ke dalam studio untuk berfoto-foto dengan Andy F. Noya.
di perjalanan pulang saya merenung begitu dalam. tentang hidup saya, mau jadi apa saya? saya teringat Mas Rama yang didukung orang tuanya, untuk tidak terhambat ketika masalah datang, tapi katakan selanjutnya apa? dan bergeraklah cepat, habis ini selesai, lalu cepatlah bergerak.
dan ada satu hal lucu di jalan saat bensin kami habis, saya dan mas Agung hendak mengisi bensin, tapi sialnya, mendadak pom bensin itu mati lampu.... padahal bensin kami begitu tipis, benar-benar setetes habis, kami pun saling berjudi apakah cukup bensin yang tinggal setetes ini sampai di perhentian bensin selanjutnya. dan kami pun memilih resiko-nya, bergerak cepat, hingga ajaibnya kami berhasil ke pom bensin selanjutnya.
lihat pengalaman pom bensi ini pun salah satu filososfi Hidup, tentang berani mengambil resiko, berani bergerak cepat tanpa keraguan, tanpa kegalauan (hoek), tanpa ketakutan tidak sampai tujuan. semua harus berani diterjang, dan itulah pelajaran moment yang saya pelajari di satu hari yang utuh itu. Tanggal 18 Januari 2012.
Saya pada akhirnya hanyalah manusia biasa yang memilih jalan sepi ini, jalan spiritual saya untuk belajar kembali Kasih, Sayang, Cinta, Ruang, Waktu, Cahaya. hingga kelak saya bisa menjadi seperti apa yang saya inginkan.
Terima Kasih untuk kalian semua, yang terjalin di jaring laba-laba takdir, yang satu sama lain mempertemukan hal lain lagi. Hidup = Pelajaran yang tidak pernah habis, hingga nafas terakhir.
best of luck for Mas Rama. Nikmati Petualangan ini, selamat lahir kembali.
saya persembahkan artikel ini untuk Mas Rama dan Hidup yang begitu sabar pada saya.
telah diterbitkan di Koran Nikotopia, 21 Januari 2012, edisi Narsis Inspiratif - Rumah Pena.
----------
----------
RAMADITYA SANG INSPIRATOR
Oleh: Farahdara Drian Iqlima
Hari ini Jum'at ya? Jum'at motivasi...
Subhanallah... Aku ingin ucap satu kata ajaib ini selalu. Minggu ini tak terasa berjalan begitu cepatnya, seakan waktu tak mau berkompromi.
Tanggal 18 Januari 2012, mungkin bukan hanya menjadi titik balik bagi Kak Ramaditya Adikara, Bunda Cuwiy atau mungkin juga beberapa teman. Hari itu juga membawa dampak untuk diriku.
Aku ingat kawan, hari-hari pertama aku menjadi mahasiswi, bukan hal yang mudah, aku mengenal sosok seseorang yang humoris, luar biasa walau dengan keterbatasannya. Memang ngga sering bertemu dengannya, soalnya aku sendiri punya kehidupan yang aku bangun mati-matian saat kuliah. Tapi dari sosok ini aku belajar untuk fight. Yang aku tahu di tahun ketigaku Kakak ini cuti kuliah, tapi sebelum cuti itu pun aku melihat wajahnya di layar lebar di suatu acara kampus. Ingat banget, si kakak ini bikin cerita yang keren, soal jadi jagoan yang menyelamatkan putri, trus dia menang, namanya disebut-sebut dan dipanggil-panggil untuk ke panggung tapi rupanya sudah meninggalkan kampus. Dalam hatiku, "wah! Si kakak hebat! Ngalahin banyak orang narsis seantero kampus".
Beberapa tahun lewat, dia muncul ke permukaan lagi, waktu itu aku berfikir begini, "lho! Ini kan si Kakak". Pertama kali aku membaca tentangnya di suatu koran harian, kemudian dia muncul di Kick Andy dengan sabernya. Aku terinspirasi sekali. Sungguh tidak menyangka sosok humoris itu bisa memotivasi bukan hanya aku, tapi banyak orang lainnya.
Jujur temans, aku ngga mengikuti kabar tentang dirinya di dunia maya, buatku dia adalah sosok yang memotivasi, jadi aku ngga terlalu pusing dengan kabar-kabar miring tentang dirinya. Manusia itu hanyalah sebutir debu di mata Tuhannya, siapa pun bisa membuat kesalahan, tapi dari pada sibuk membicarakan orang, kenapa ngga berkarya seperti dia? Yang memberitakan miring tentang dia juga belum tentu bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang dibuatnya. Apa mereka bisa memainkan musik yang menyihir sejenak dengan hanya sebuah suling?
Setelah selesai kuliah aku terjun ke dunia anak, bukan anak-anak biasa, mereka justru sangat luar biasa, aku belajar banyak dari anak-anakku. Mereka pun terbatas, soal masa depan pun mereka tidak tahu, bagaimana mau tahu? Sedang orang tua saja kebanyakan mentok di pendidikan SMA, ada yang orang tuanya pengamen, sebagian besar ibunya buruh cuci atau ayahnya cuma tukang ojek. Aku tidak ingin mereka cuma bercita-cita sebatas itu, aku ingin mereka bercita-cita yang tinggi. Untuk memotivasi mereka, dengan harap-harap cemas, aku menghubungi si kakak untuk meluangkan waktunya berbagi dengan anak-anakku di sela-sela kesibukannya. Subhanallah, Allah meridhoi, anak-anakku juga menyukai dia, malah setelah dia mengisi materi di hari itu mereka bertanya kapan si kakak akan main lagi. Semangat belajar mereka juga naik, dan tunjuk prestasi menjadi ajang persaingan yang sehat untuk mereka.
Dan di hari rabu itu, aku datang untuk mensupport dirinya. Dan aku bangga mengenal sosoknya dari dekat. Dia memukulku pelak dengan semangatnya, "REBORN". Ya, lahir kembali, "seperti phoenix yang mati, kemudian lahir kembali dari abunya". Kalimat ini terus terngiang-ngiang di telingaku. Ya, aku harus bangkit! Seberat apa pun yang harus aku lalui. Tahukah siapa dia kawan? Ya dialah Ramaditya Adikara yang semasa di kampus pernah dikenal sebagai "Rama Suling".
Subhanallah, Allah membawaku ke rumah ini, rumah yang luar biasa. Setiap hariku bagai pelangi di sini, selalu ada tawa yang menghibur, selalu ada motivasi yang membangkitkan semangat. Setelah aku berada ada di titik "nol" kemarin, seorang bunda yang baik hati mengatakan ini padaku, "yuk geser angkanya ke angka 0,1". Sungguh membangkitkan semangat. Terima kasih Rumah Pena, terima kasih mba Achi TM, terima kasih kak Rama. Untuk motivasi dan inspirasi yang tiada habisnya. Suatu hari aku ingin berkarya dan memberikan motivasi yang sama ke dunia juga untuk dunia anak-anak yang aku cintai.
----------
----------
AMAZING MOMENT
Oleh: Widuri
18 Januari 2012 adalah moment paling special yang pernah dihadiri oleh seorang Bunda Cuwiy. Berbagai perasaan bangga, kagum, terharu menjadi satu ketika sosok Ramaditya Adikara berjalan gagah dengan jas abu-abunya, dan celana serta sepatu putihnya.
Perasaan yang ada di dalam hati, sulit untuk diungkapkan. Tapi pandangan mata tidak bisa berbohong, bahwa panggilan sang motivator lebih tepat ditujukan kepada seorang Rama. Menyaksikan proses kelahiran kembali seorang Rama, dari yang awalnya sukses, kemudian terpuruk, dan kembali menjadi jaya adalah sebuah pencapaian yang butuh proses pengorbanan dan perjuangan yang tak kenal lelah.
Ibaratnya, kalau seorang pakar keuangan paham tentang keuangan, itu biasa. Tapi kalau seorang mahasiswa sastra mengerti dan paham tentang keuangan, itu baru luar biasa. Begitu juga dengan seorang Rama, kalau orang biasa bisa menghasilkan sesuatu yang mengagumkan, itu hal yang biasa. Tapi kalau orang yang "tidak biasa" menghasilkan sesuatu yang menakjubkan itu baru luar biasa.
Saya terkagum dan tidak berasa menitikkan air mata, ketika sang motivator dengan penuh rasa percaya diri mengatakan "seperti layaknya burung Pheonix yang melebur menjadi abu, tapi ia lahir kembali dan terbang tinggi. Mas Rama pun mengajarkan kepada saya, bahwa berdiri di atas puing-puing kehancuran masa lalu, adalah sebuah pilihan hidup yang paling indah untuk masa depan. Hidup untuk hidup. Congrats ya Mas, terima kasih sudah memotivasi bunda cuwiy dengan sebuah perjalanan kehidupan yang luar biasa. Salam takzim, bunda cuwiy.
----------